Mana yang Layak Masuk Workflow Kamu?
Tahun 2024 sudah menawarkan banyak pilihan tools untuk desainer UI game — dan jujur saja, pilihannya terlalu banyak sampai bikin bingung. Figma? Adobe XD? GameMaker dengan editor bawaan? Setiap tools punya klaim masing-masing sebagai yang terbaik. Setelah menggunakannya secara langsung dalam beberapa proyek game indie dan web, inilah breakdown jujur yang mungkin kamu butuhkan sebelum commit ke satu platform.
Figma: Raja Kolaborasi, Tapi Ada Batasnya
Figma sudah lama mendominasi dunia desain UI, termasuk untuk kebutuhan game interface. Kelebihannya jelas: kolaborasi real-time, plugin ekosistem yang luas, dan prototipe interaktif yang bisa langsung diperlihatkan ke klien atau tim developer.
Untuk desain HUD (Heads-Up Display) game mobile atau web-based game, Figma bekerja sangat baik. Kamu bisa membuat mockup inventory screen, skill tree, hingga dialog box dengan presisi tinggi.
Kekurangannya? Figma tidak dirancang khusus untuk animasi game. Transisi antar elemen UI terasa terbatas dibanding tools khusus. Untuk proyek game dengan animasi UI kompleks, kamu akan sering merasa “mentok” di titik tertentu.
Skor: 8/10 untuk game UI statis dan prototyping awal.
Adobe XD: Solid, Tapi Mulai Tertinggal
Adobe XD pernah menjadi jawaban Adobe untuk bersaing dengan Figma. Dan memang, XD punya integrasi mulus dengan ekosistem Adobe lainnya — Illustrator, Photoshop, After Effects. Ini keuntungan besar jika tim kamu sudah terbenam di workflow Adobe.
Namun sejak Adobe mengumumkan penghentian pengembangan fitur baru XD secara agresif, banyak desainer mulai ragu. Update lambat, beberapa bug lama tidak kunjung diperbaiki, dan komunitas plugin-nya jauh lebih kecil dibanding Figma.
Untuk desainer game yang sudah punya lisensi Adobe Creative Cloud, XD masih layak digunakan — terutama untuk aset yang perlu bolak-balik diedit di Photoshop. Tapi jika kamu mulai dari nol, sulit merekomendasikan ini sebagai pilihan utama di 2024.
Skor: 6/10 — masih fungsional, tapi bukan investasi terbaik jangka panjang.
Unity UI Toolkit: Untuk Desainer yang Mau Lebih Teknis
Bagi yang mengerjakan game dengan Unity, UI Toolkit adalah solusi yang seringkali diabaikan. Tools ini memungkinkan desainer membuat antarmuka game menggunakan pendekatan mirip CSS dan HTML — familiar bagi yang punya background web.
Kelebihannya besar: UI yang dibuat langsung terintegrasi dengan engine, performa lebih baik dibanding sistem UI lama Unity (uGUI), dan bisa dikustomisasi mendalam. Banyak kreator konten di berbagai platform, termasuk komunitas yang sering dibahas di forum-forum game development seperti yang kerap muncul di situs hiburan digital seperti kakekslot, mulai melirik pendekatan ini untuk membangun interface game yang lebih responsif.
Kekurangannya? Kurva belajarnya cukup curam untuk desainer murni tanpa background coding. Kamu perlu memahami USS (Unity Style Sheets) dan sedikit C# untuk hasil optimal.
Skor: 7.5/10 — rekomendasi kuat untuk tim yang punya pipeline Unity.
Penpot: Alternatif Open-Source yang Makin Serius
Penpot adalah dark horse dalam daftar ini. Tools open-source berbasis web ini berkembang pesat dan mulai dilirik studio indie yang tidak ingin bergantung pada layanan berbayar.
Fiturnya sudah mencakup vektor editor, prototyping, dan kolaborasi tim. Untuk game UI sederhana hingga menengah, Penpot sudah lebih dari cukup. Antarmukanya cukup intuitif bagi yang sudah terbiasa Figma.
Tentu ada tradeoff: ekosistem plugin masih terbatas, performa kadang terasa lebih berat, dan beberapa fitur advanced masih dalam pengembangan. Tapi untuk studio kecil atau freelancer yang ingin menekan biaya operasional, Penpot adalah pilihan yang sangat masuk akal.
Skor: 7/10 — potensi besar, terus berkembang.
Spline: Untuk UI Game 3D yang Berbeda
Spline memang bukan tools desain UI konvensional, tapi relevansinya makin terasa di 2024. Dengan Spline, kamu bisa membuat elemen UI berbasis 3D yang interaktif — cocok untuk game dengan estetika futuristik atau sci-fi.
Integrasi ke web juga mulus, sehingga untuk game berbasis browser, elemen UI dari Spline bisa langsung di-embed tanpa proses render tambahan.
Kekurangannya adalah fokusnya yang sangat spesifik — ini bukan tools all-in-one. Kamu tetap butuh Figma atau Penpot untuk layout dan wireframing dasar.
Skor: 8/10 — untuk niche yang tepat, Spline benar-benar bersinar.
Pilihan Akhir: Tergantung Konteks
Tidak ada satu tools yang menang telak. Figma tetap pilihan paling aman untuk tim kolaboratif. Unity UI Toolkit ideal jika kamu deep di ekosistem Unity. Penpot masuk akal untuk budget terbatas. Dan Spline membuka kemungkinan estetika yang belum banyak dijelajahi.
Yang penting: pilih berdasarkan kebutuhan proyek, bukan sekadar ikut tren. Tools terbaik adalah yang benar-benar kamu gunakan sampai tuntas.






